Gelar Pahlawan untuk Soeharto

Apakah Soeharto Layak Jadi Pahlawan?

1763708755507

Oleh: Ocehanburung

Saya sempat menghentikan jari saya di layar HP ketika membaca sebuah unggahan dari akun Instagram detikcom: Presiden Prabowo menganugerahkan gelar pahlawan kepada Soeharto, mantan presiden kedua Republik Indonesia. “Lho… hmmm… bentar-bentar… kok… oohh… eh…” Itulah gumaman spontan saya. Bukan karena saya anti pada keputusan itu, tetapi perlu saya fikir ulang kembali. saya coba mengingat lagi, membongkar ulang apa yang pernah saya alami, baca, dengar, dan rasakan tentang tokoh yang satu ini.

Untuk memahami ini semua, saya perlu menarik garis waktu ke masa lalu—tepatnya tahun 1998. Saat itu saya adalah salah satu dari ribuan mahasiswa yang turun ke gedung DPR menuntut agar Soeharto turun dari kekuasaannya setelah lebih dari 30 tahun memimpin negeri ini.

Saya masih ingat betul selebaran-selebaran yang beredar di antara kerumunan: daftar panjang alasan mengapa Soeharto harus lengser. Mulai dari isu pelanggaran HAM, praktik korupsi, kolusi, nepotisme, hingga kebijakan-kebijakan represif yang membungkam kebebasan rakyat.

Suasana waktu itu jelas, kuat, dan bulat: Soeharto harus turun.

Ada Beberapa peristiwa kelam yang tertanam cukup kuat dalam ingatan saya, Operasi militer di Timor Timur, Operasi militer di Aceh dan Papua, Tragedi Tanjung Priok, Tragedi Talangsari Lampung, Pembungkaman kebebasan politik & pers, Penembakan mahasiswa Trisakti dan Praktek KKN sistemik dalam jaringan yayasan keluarga seperti Dharmais, Supersemar, hingga kasus Mobil Timor.

Peristiwa-peristiwa itu adalah bagian dari puzzle besar yang membuat Soeharto didorong turun oleh rakyatnya sendiri. Bagaimana mungkin hal-hal ini tidak ikut mewarnai cara kita menilai sosoknya? Namun, Tidak Semua orang bisa menilai hanya dari satu sisi saja, Meski demikian, mengabaikan seluruh capaian Orde Baru juga bukan sikap yang jujur. Sebab realitanya, banyak juga orang yang mengingat Soeharto sebagai pemimpin yang membawa stabilitas dan kemajuan pada masa kepemimpinannya.

Tidak bisa kita pungkiri bahwa Beberapa “jasa fenomenal” beliau, Swasembada beras, Pembangunan infrastruktur di seluruh nusantara, Pertumbuhan ekonomi yang pesat pada era 70–80-an, Penurunan tingkat kemiskinan, Keberhasilan program Keluarga Berencana dan Stabilitas politik yang kuat.

Soeharto memang bukan pemimpin tanpa pencapaian. Ia bukan sosok kosong yang hanya mewariskan sisi gelap saja. Ada kontribusi nyata yang bisa diukur dampaknya bagi pembangunan Indonesia modern. Soeharto adalah dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Ada “jasa”, ada “dosa”. Ada pembangunan, ada penindasan. Ada kemajuan, ada korban.

Sejauh pengalaman saya, cara manusia menilai manusia lain sangat dipengaruhi oleh memori yang ditinggalkan. Bila seseorang meninggalkan kesan baik, ia akan diingat baik. Bila meninggalkan luka, ia akan diingat sebagai penyebab luka itu.

Begitu jugalah Soeharto di mata bangsa Indonesia: terbelah, subjektif, dan sangat dipengaruhi pengalaman masing-masing individu.

Namun setelah merenung lebih lama, saya sampai pada satu kesimpulan yang tentu saja yang sangat dipengaruhi oleh pengalaman pribadi tentang beliau.

Kesalahan terbesar Soeharto sebenarnya hanya satu — DIA BERKUASA TERLALU LAMA.

Kekuasaan yang panjang membuat memori kolektif masyarakat mengalami distorsi. Di tiga dekade itu, tidak mungkin hanya ada hal baik. Dan ketika memasuki masa-masa akhir pemerintahannya, Soeharto meninggalkan lebih banyak luka daripada rasa syukur. Inilah yang membuat seluruh “jasa fenomenal”-nya perlahan memudar di benak rakyat. Yang tersisa hanyalah daftar “dosa” yang terus diingat, diperbincangkan, dan diwariskan. Karena lama berkuasa.

Karena terlalu lama Soeharto sampai bisa membangun negeri sekaligus mematikan ruang kritik. Demokrasi dipagari. Kritik dipersempit. Media dikontrol ketat. Seluruh stabilitas dan pembangunan yang dicapai akhirnya dibayar sangat mahal. Dan harga itu dibayar oleh rakyat yang dibungkam, mahasiswa yang ditembak, aktivis yang hilang, hingga keluarga korban yang menanggung beban trauma sampai hari ini.

Maka ketika pemerintah saat ini menobatkan Soeharto sebagai pahlawan, wajar jika muncul perdebatan. Sebab bagaimana mungkin kita menempatkan seseorang dalam kategori “pahlawan” ketika daftar pelanggaran yang terjadi pada masa pemerintahannya begitu panjang dan terdokumentasi?

Jadi, Apakah Soeharto Layak Menjadi Pahlawan?

Setelah menimbang dua sisi itu—jasa dan dosa—saya sampai pada simpulan pribadi,

Soeharto layak dikenang sebagai pemimpin besar yang membawa perubahan besar. Namun… ia belum layak dianugerahi gelar pahlawan nasional.

Kenapa? Karena definisi pahlawan bukan sekadar soal hasil pembangunan, pertumbuhan ekonomi, atau stabilitas politik.

Pahlawan adalah mereka yang berjasa besar tanpa meninggalkan jejak pelanggaran berat terhadap rakyatnya.

Pahlawan adalah sosok yang bukan hanya membangun negeri, tetapi juga menjaga nilai kemanusiaan.

Pahlawan adalah mereka yang mengorbankan diri untuk rakyat sepenuhnya.

Soeharto punya jasa, itu benar. Tapi ia juga meninggalkan luka, korban, dan warisan pelanggaran HAM yang tidak pernah tuntas dipertanggungjawabkan.

Jika gelar pahlawan diberikan, lantas bagaimana dengan korban Tanjung Priok, Talangsari, Timor Timur, atau Trisakti?

Bagaimana generasi muda memahami bahwa pembangunan boleh mengorbankan manusia?

Maka, bagi saya, Soeharto tetaplah sosok penting dalam sejarah Indonesia—besar, kuat, berpengaruh, dan tak mungkin dihapus dari cerita bangsa.

Tetapi pahlawan? BELUM. Sebelum yang merah menjadi benar-benar merah dan yang putih menjadi benar-benar putih.

Salam Ocehanburung.

Ocehanburung

Seorang yang sangat memperdulikan keutuhan dan harga diri bangsanya...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *