Saya, Prabowo Subianto dan Darah Sultan Mataram

Saya, Prabowo Subianto dan Darah Sultan Mataram.

Mangkurat_IV-1

(sumber)

Hari minggu kemarin, 31 Juli 2016, orang tua saya menjadi tuan rumah Halal bihalal untuk keluarga besar Eyang Kh. Moh. Yusuf. Kakek dari Orang tua saya. Dari pembentukan Grup di Social media, hingga semua keperluannya, saya, kakak saya dan bantuan dari saudara serta kerabat yang lain, disiapkan untuk menyukseskan acara yang buat orang tua saya, terutama untuk Ibu saya yang menurut beliau hahal bihalal ini cukup penting untuk tetap bisa meng-eratkan tali silaturahim dan menjaga garis keturunan, serta mengukuhkan bahwa kita mampu untuk tetap satu ditengah gencarnya budaya individualisme.

Saya tidak akan membahas soal acara halal bihalal yang berlangsung, karena yang jelas, acaranya meriah dan cukup banyak yang datang (lebih dari 50 orang sanak saudara hadir kerumah kami). Saya hanya akan share foto-foto yang menggambarkan acara tersebut pada akhir tulisan saya.

Yang membuat saya cukup tertarik adalah dari apa yang salah satu Bude saya utarakan di saat beliau mendapatkan kesempatan untuk berbicara didepan semua perihal silsilah keluar besar kami. Ketika beliau baru turun dari Mobilnya di usia yang sudah tidak muda lagi, tapi masih ada sisa kekuatan dari masa mudanya itu memegang tangan saya dan bilang dengan pelan.

“Aku baru sembuh, ini lengan kananku belum sembuh benar,…Aku nanti mau ngomong sebentar aja sama semua, bahwa acara seperti ini bagus dan harus tetap ada, aku mau kasih tau kalo kita itu, Eyang yut kamu itu masih keturunan Sultan Mataram…”

Saya Cuma senyum dan se-sering mungkin menunduk-nundukkan kepala saya, serta mengimbangi jalan Bude saya yang pelan dan cukup kuat bertumpu pada lengan kanan saya menuju rumah. Bahwa saya masih keturunan Sultan Mataram dan jika di telusur lebih jauh bahwa salah satu mantan presiden indonesia juga masih ada hubungan saudara dengan keluarga kami, adalah obrolan orang tua dan Bude serta bule saya yang sudah sering saya dengar, bukan satu dua kali, tapi entah berapa kali Ibu saya mengatakan bahwa masih ada darah biru yang mengalir pada saya walau gelar Raden sudah tidak layak saya sandang.

Sebetulnya saya samasekali tidak mempersoalkan hal itu lagi, karena memang zaman sudah berubah, darah kita ternyata sama-sama merah, dan yang membedakan kita adalah hanya kadar iman masing-masing yang ada dalam diri kita. Itu yang pasti dan itu yang sampai saat ini saya yakini.

Tapi, dari apa yang di kisahkan oleh Bude saya tentang asal muasal silsilah keluarga besar ibu saya, dengan sebuah map cukup tebal sebagai penguat bukti silsilah tersebut, saya jadi penasaran dan tertarik untuk mengetahuinya. Siapa saya?? Dan berharap dengan mengetahui masa lalu, maka kita bisa optimis menyongsong masa depan. Saya pinjam Map Kecil itu, saya buka, dan saya Baca…

Cukup asik dan bisa membuahkan ide untuk sebuah cerita ketika saya membuka lembar demi lembar dari kertas yang ada di map itu. Mulai dari nama Raja-raja yang sebelumnya hanya bisa saya dapatkan di Buku sejarah kerajaan Indonesia, sampai pada lembar ada nama Ibu saya disana.

“Sultan Mataram… hhhmmmm.. saya masih keturunan Sultan Mataram…” Gunggam saya dalam hati sambil senyum kecil.

Dan inilah runutan silsilahnya.

Kanjeng Sultan Amangkurat IV (Sultan Mataram IV)

# Memiliki Keturunan RA. Brani mangkuprojo

# Memiliki Keturunan RA. Kajoan Somowidjojo

# Memiliki Keturunan RA. Fatimah Djayaningrat

# Memiliki Keturunan KT. Tohar Hadiningrat

# Memiliki Keturunan KT. Tafsir Anom

# Putri dari Tafsir Anom Menikah dengan K. Mangunharjo

# Putri dari Pasangan Mangunharjo yaitu Ny. Sudjirah menikah dengan K. Supandji Imamdipuro yang juga keturunan dari Sultan Mataram IV

# Memiliki anak salah satunya adalah KHM. Yusuf Yudodipuro yang merupakan eyang dari Ibu  dari keturunannya Ny. Siti Chabibah.

# Ibu saya adalah Putri dari hasil pernikahan Ny. Siti Chabibah dengan RH. Dimyati.

# Dikarenakan Ibu saya menikah bukan dari Kalangan Keraton, maka walau saya ada keturunan dari Sultan Mataram, namun tidak berhak untuk mendapat gelar Raden.

Nah itulah Silsilah saya dan hubungannya dengan Sultan Mataram IV. Sedangkan pasangan Kh. Moh. Yusuf dan Ny. Karyatoen memiliki keturunan 11 orang yaitu :

  1. Siti Chanah
  2. Siti Chabsah
  3. Siti Chalimah
  4. Siti Chabibah (Nenek saya)
  5. Moch Chamim
  6. Moch Chafas
  7. Siti Khalimi
  8. Siti Chodijah
  9. Moch Chanif
  10. Siti Chusniah
  11. Moch Hambali

Dan Halal bihalal kemarin adalah Halal bihalal dari keluarga besar Yang KH. Moh. Yusuf, yaitu keturunan dari 11 anaknya diatas.

Halal

(Ini Keluarga besar kita)

Dan yang mengejutkan adalah, entah ini kebetulan atau tidak, Benar atau tidak, setelah saya iseng browsing di dunia maya, ternyata dari rasa keingintahuan saya lebih jauh tentang silsilah saya, saya menemukan bahwa ada keterkaitan silsilah saya dengan silsilah Prabowo Subianto. Sosok yang selama ini saya kagumi. Hubungan darah kami ada pada Jalur Sultan Amangkurat IV (Sultan Mataram).

trahprabowo2_11

(Foto Silsilah sumber Google)

Dari sejarahnya. Konon Sultan Amangkurat IV, pernah hendak dikudeta oleh saudaranya karena saudaranya itu merasa bahwa Mataram akan jauh lebih baik jika di pimpin oleh hindia belanda, namun Sultan Amangkurat IV berbeda pendapat dan akhirnya usaha saudaranya itu berhasil dia lumpuhkan.

Mungkin karena itulah mengapa saya begitu mengaguminya Prabowo Subianto sebagai sosok negarawan yang sebagian besar sikap dan sepak terjangnya sangat sesuai dengan saya. Mungkin dikarenakan kami masih punya leluhur yang sama.

“Leluhur yang tidak menyukai negaranya dikuasai oleh bangsa asing!!!..”

Allahu alam…

Salam Ocehanburung.

Ocehanburung

Seorang yang sangat memperdulikan keutuhan dan harga diri bangsanya...

3 Comments

  1. Seseorang yang menghargai sejarahnya adalah orang yg mencintai bangsa dan negara nya. Selamat ya. Jadi manggil ke pak prabowo apa ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *